Jumat, 11 November 2011

Inspirasi Pergaulan Ikhwan dan Akhwat

Jika Kau Tak Ingin Patah Hati, Jika Kau Ingin Cinta Sejati, Pastikan Kau Selalu Bersama Ridho Illahi,,,,
Semuanya Bermula dari Interaksi Sebagai manusia umumnya, interaksi adalah sarana untuk mencapai kebutuhan yang kita inginkan. Kita pengen pinjem sesuatu,,berinteraksi dg orang yang punya barang yang dimaksud, kita mau beli sesuatu, interaksi dengan penjual yang bersangkutan. Interaksi, tak akan pernah bisa dihindari. Apalagi sistem organisasi yang menjadikan kita cukup intens untuk berinteraksi dengan makhluk bernama laki-laki-sebut saja ikhwan-biar singkat. Adab pergaulan ikhwan akhwat harus jadi pathokan. Jujur, hal ini gampang-susah-gampang. Secara tidak sadar, komunikasi yang awalnya sebaga partner kerja, berubah menjadi komunikasi sosial. Sangat susah untuk bisa mengatur hal ini dalam waktu yang sama. Apalagi, kalau punya cerita masa SMA bareng alias konco cilik. Bisa dipastikan, walaupun dalam kerja, bahasa komunikasi yang digunakan adalah bahasa konco dhewe. Nggak masalah sebenarnya, sepanjang dalam koridor yang penting dan orientasi kerjaan. Tapi, biasanya komunikasi sosial yang tidak sehat akan berlanjut kepada hal-hal yang tidak penting untuk dikomunikasikan. Misal..(kalau ada yang merasa pernah seperti contoh-contoh dibawah ini, anggap saja sedang bagi-bagi ilmu ^^’ semoga pahalanya juga buat antum) sering kita terpelosok di interaksi yang berlebihan. Bahkan mungkin akhirnya sampai-sampai teman-teman di sekitar kita menganggap kita tahu segala hal tentang salah seorang ikhwan/Akhwat. Dia lagi di mana, kerja di mana, sehat apa sakit, bagaimana aktivitas da’wahnya, kapan pulang..dsb. Dan kalau kita ternyata tahu semua jawaban pertanyaan itu,,,astaghfirullaaha’adzim…… (cry) Ingatlah Bahwa Akhwat juga Manusia Sehebat apapun akhwat, segalak apapun dalam kerja organisasi, tetap saja dia dibuat dari tulang rusuk laki-laki. Tetap saja hatinya lembut selembut kapas. Kena air aja dikit, mimpes..wkwk..wat..akhwat maap ye. Sadarlah bahwa ada fitroh yang seperti itu . Pun sampai ketika ikhwan-ikhwan sudah tidak menganggapmu sebagai akhwat lagi dan menganggapmu sebagai ikhwan berwujud akhwat,,loh?? hhe. Tetap saja, Allah menganugerahi segala hal tentang perempuan, padamu, Akhwat. Ikhwan yang berinteraksi dengan akhwat macam begini (emangnye barang?), juga jangan adhem ayem. Mentang2 iso dijak taekwondo n pecicilan, njuk tidak memperhatikan aspek ini. Seenaknya interaksi dengan hal-hal yang gak penting. Kalau gayung bersambut piye jal? (puas?). Tetap kembali, bahwa akhwat tetap akhwat, apa pun tampilannya Misalnya nih, bagi ikhwan, sekedar mengirim sms: “Assalaamu’alaikum, ukht. Gimana kabarnya? Katanya besok ada reunian ya? Bla..bla,,,bla,,,” Sepengetahuan saya, biasane tuh ikhwan cuma ngarah mudahnya aja. Biasanya tanya yang begituan ke sesama ikhwan, balasnya lamaaaaaaaa,,,bgt. Atau mungkin gak dibalas sama sekali (ini beberapa alasan yang muncul ketika saya tanya, kenapa tanyanya ke akhwat,padahal ikhwan yang lain banyak). Mari kita lihat dari sisi akhwat. Kalau sisi kuatnya lagi normal, sms ini akan menjadi biasa saja, dijawab dengan mudah juga, padat,singkat, dan jelas. “Alhamdulillah baik. Ya, Insya Allah ada, tanggal 30 Juni 2010 di gedung XYZ.” Tapi siapa yang tahu hati? Kapan dan di mana sedang lemah? Kalau sedang gak normal alias mellownya keluar,,,,sms singkat itu bisa diartikan macam-macam. Waah,,,tanya kabarku. Waah,tanyanya ke aku, bukan yang lain,,waaahh,,jadi penasaran kabarnya skarang gimana ya? Dan akhirnya…mengalirlah sms mungkin sampe dari pagi mpe maghrib gak berhenti sms an. Dan muncullah noda itu. Harapan yang aneh-aneh gara-gara ke Ge-eR an. Duh akhwaaatt,,,,,( di sisi lain, si ikhwan hanya menganggap sms biasa aja,,tanpa tendensi apapun) Bermain Api Ini malah bermain api. Duhhh…jangan deh….. Tema ini jadi muncul disebabkan ada ikhwan yang protes di diskusi plurk, bahwa akhwat dinilai sering main api duluan. Oh ya?? Sepanjang pengamatan saya, ya begitulah. Akhwat malah mungkin lebih agresif, apalagi kalau sudah punya rasa. Nah lho,,yang gak punya rasa aja disentil dikit bisa jadi berabe, apalagi yang model begini? Hwedewwww…… Mungkin ada akhwat yang manyun baca tulisan ini dan menolak mentah-mentah. Silakan,,mungkin antum termasuk orang yang lurus. Bersyukurlah,,,tiap kita mendambakan demikian. Bagi yang manyun karena pernah menjadi salah satu bagiannya, mari kita beristighfar. Semoga Allah melindungi kita dari tiap jerata syetan dan melindungi kita agar tidak menjadi sarana syetan menggoda hamba Allah. Hanya dengan kejujuran yang dalam kita bisa menjawab tanya: apakah kita pernah bermain api. Dan sungguh, Allah Maha Penerima Taubat. Salut untuk ikhwan-ikhwan yang berani berkata tidak ataupun tidak menjawab sms akhwat yang sedang “usil”. Memang perlu usaha dari kedua belah pihak untuk menghentikan ini. Karena tulisan ini dikhususkan untuk akhwat, maka pada akhwatlah kewajiban pertama untuk nge-cut interaksi yang berlebihan saya serukan. Sudah fitrahnya, wanita adalah godaan terbesar untuk laki-laki. Tapi, bukan karena alasan ini utamanya. Hati kita lebih berharga untuk dijaga kesuciannya. Stop overload interaksi. Selalu berusaha untuk mematuhi adab-adabnya dan menjaga hijabnya. WAllaahu a’lam bishawab. copas be iuc

Makna akhwat dan ikhwan sejati ayeaye "*"

1. akhwat sejati
Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, "Ayah ceritakan padaku tentang Akhwat sejati?" Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum: "Anakku ... Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya. Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang memesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya. Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan, tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu. Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan. Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara" Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya. "Lantas apa lagi Ayah?", sahut putrinya. "Ketahuilah putriku ... Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya. Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari Kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda. Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur. Dan ingatlah ... Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul" Setelah itu sang anak kembali bertanya, "Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Ayah?" Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, "Pelajarilah mereka!" Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan "Istri Rosulullah" 2.IKHWAN SEJATI
Seorang remaja pria bertanya pada ibunya, ”Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati!” Sang Ibu tersenyum dan menjawab… "Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati di tempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya. Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahdapi lika-liku kehidupan. Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca." Setelah itu, sang remaja pria kembali bertanya. Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ? Sang Ibu memberinya buku dan berkata… Pelajari tentang dia. Ia pun mengambil buku itu, MUHAMMAD, judul buku yang tertulis di buku itu. semoga bermanfaat!!09

Follow by Email