Sabtu, 16 Mei 2015

Benarkah ??

Mengerjakan Tugas Rumah Tangga Adalah Kewajiban Suami, Benarkah? Simak Dialog Ini
Maryam Imran | 12/05/2015 | Komentar
Akhwatmuslimah.com – Di subuh yang dingin… kudapati ibu sudah sibuk memasak untuk keluarga..
“Ibu masak apa? Bisa ku bantu?”

“Ini masak gurame goreng. Sama sambal tomat kesukaan bapak” sahutnya..

“Alhamdulillah.. mantab pasti.. mari saya bantu. Eh bu.. calon istriku dia tidak bisa masak loh..”

“Iya terus kenapa,,?” Sahut ibu..

“Ya tidak kenapa2 sih bu.. hanya cerita saja, hehehe”..

“Jangan di pikir memasak, mencuci, menyapu, mengurus rumah dan lain lain itu kewajiban wanita”

“Hah.? Maksut ibu..?” Kaget..

“Itu semua adalah kewajiban lelaki”

“Tapi bukankah ibu setiap hari melakukannya?”

“Kewajiban istri adalah taat pada suami. Karena bapak itu tidak mungkin bisa mengurusi rumah maka ibu bantu mengurusi semuanya. Sebagai wujud cinta dan juga wujud istri yang mencari ridho suaminya”

Saya makin bingung bu.

“Bukankah kewajiban lelaki untuk menafkahi istri? Baik itu sandang, pangan, dan papan” tanya ibu..

“Iya tentu saja bu..”

“Menurut mu pengertian nafkah itu yang seperti apa? Pakaian yang bersih adalah nafkah. Sehingga mencuci adalah kewajiban suami. Makanan adalah nafkah. Kalau beras. Itu masih setengah nafkah. Karena belum bisa di makan. Sehingga memasak adalah kewajiban suami. Lalu rumah adalah kewajiban suami. Sehingga kebersihan rumah adalah kewajiban suami”

“Waaaaah.. sampai segitunya bu..? Lalu jika itu semua kewajiban suami. Kenapa ibu tetap melakukan itu semuanya tanpa menuntut bapak sekalipun?

“Karena ibu juga seorang istri yang mencari ridha dari suaminya. Ibu juga mencari pahala agar selamat di akhirat sana. Karena ibu mencintai ayahmu, mana mungkin ibu tega menyuruh ayahmu yang baru pulang bekerja untuk melakukan tugas itu semua. Jika ayahmu berpunya mungkin pembantu bisa jadi solusi. Tapi jika belum ada, ini adalah ladang pahala untuk ibu”

Aku hanya diam..

“Pernah dengar cerita fatimah yang meminta pembantu kepada Nabi karena tangan nya lebam karena menumbuk tepung?” Tapi Nabi tidak memberinya.

Atau pernah dengar juga saat Umar di Omeli istrinya? Umar diam saja karena tahu betul. Wanita kecintaannya sudah melakukan tugas macam2 yang sebenarnya itu bukanlah tugas istri. Tapi karena patuh dan taatnya wanita semua ridha di kerjakannya.

“Iya buu…”

“Jadi laki laki selama ini salah sangka ya bu, seharusnya setiap lelaki bertrimakasih pada istrinya. Lebih sayang dan lebih menghormati jerih payah istri.”

“Eh. Terus kenapa ibu tetap mau melakukan semuanya padahal itu bukan kewajiban ibu?”

“Menikah bukan hanya soal menuntut hak kita. Atau menuntut kewajiban suami kita. Tapi banyak hal lain. Menurunkan ego. Menjaga keharmonisan. Mengalah. Kerja sama. Kasih sayang. Cinta. Dan Persahabatan. Menikah itu perlombaan untuk brusaha membaikan satu sama lain. Yang wanita sebaik mungkin membantu suaminya. Yang lelaki sebaik mungkin membantu istrinya. Toh impianya rumah tangga sampai surga”

“Subhanallah.. eeh kalo calon istriku tau hal ini dan dia malas ngapa2 in bu?”

“Wanita beragama tentu tau bahwa ia harus mencari keridhoan suaminya. Sehingga tidak mungkin setega itu. Sedang lelaki beragama tentu tau bahwa istrinya telah banyak membantu. Sehingga tidak ada cara lain selain lebih mencintainya”

“Hening…”

Sumber : Muslim Stay Handsome

Rabu, 15 April 2015

Graduation 2010


Graduation 2010
4 tahun sudah selesei
selamat melanjutkan hidup kawan
kita ketemu kelak di masa yang jauh lebih baik
In syaa Allah 



Nisa - Jay -Nay
(gada yus nya ;( )

Jay - ela - Ria - Tisa - Nay - Asa

-2010-


Jay - Ineu - Ria


Jay - Sebahhhh

Jay - Nanaiii

Jay - Cloude

Salam CINTA untuk kalian semua 
@.@



semua ada masanya
:D


Allah kabulkan

lama sekali rasanya tak berkunjung kesini.
aku rindu
rindu kamu za
rindu masa lalu ku bersamamu seperti yang dulu-dulu
satu, dua bulan mungkin biasa, tapi ternyata lebih dari itu semua.
-.-

tetap semangat yah!
" Jay ",
semakin lama aku semakin akrab dengan sebutan itu
 "Jay"

aktivitas baruku begitu banyak dan cukup menyita waktu.
tapi tetap menjadi seorang guru adalah pekerjaan yang aku rasa aku bisa dengan sangat tulus melakukannya.

Allah, Izinkan aku menjadi seorang guru untuk kelak anak-anakku sendiri
Izinkan aku menjadi ibu kebanggaan bagi anak-anakku kelak
izinkan aku bisa merasakan pelukan dari anak-anakku kelak
izinkan aku bisa tersenyum bersama dengan mereka semua dalam lingkaran keluarga kecilku kelak

Allah, aku sungguh rindu akan datangnya hari itu
mungkin belum pantas diri ini untuk bisa merasakan semua itu,

pintaku ya Rabb "aku mohon berikan kesempatan untuk aku bisa hidup dan merasakan hari itu benar-benar menjadi kenyataan"




Selasa, 21 Oktober 2014

perkenalan kedua

MAHAMERU
Puncak gunung tertinggi dipulau Jawa. 
Alhamdulillah kesempatan itu telah berhasil menyapa saya. 



disini perjalanan kami bermula. dengan menyarter JIP, kami semua diberangkatkan menuju POS awal sekaligus pemeriksaan oleh petugas.


nah Do you know? 



Ranukumbolo, danau Sejuta pesona
cantik sekali pemandangan ini. 


Ranukumbolo menuju jembatan cinta

nah itu dia jembatan cinta, 
terlihat Landai, laaaandai sekali
sayang, itu hanya mimpi kawand.
=.=


nah setelah kita berhasil melalui jembatan cinta saatnya kita menikmati hamparan padang bunga Levender..

nah ini Jambangan, satu pos dari sini kita akan sampai di pos terakhir, yaitu KALI MATI.
dikalimati berasa sekali perjuangan kita mengambil air. krn jarak dari camp menuju sumber air harus berjalan sekitar setengah jam. itupun dengan jalan cepat. 
ditempat ini pula semua barang2 kita akan kita tinggal sebelum mulai memuncak. 


dan kita memutuskan beristirahat sore untuk kemudian bangun tengah malam untuk melakukan pendakian. iyapp...
panjang sekali kisah ini jika ingin disampaikan dengan detail. ah sudahlah biar kalian saja yang merasakan sendiri :D 

sampai akhirnya tepat pukul 09.00 kami semua bisa berkumpul di puncak MAHAMERU..
Horeeee Alhamdulillah
:D



salam dahsyat
tunggu kami dipuncak selanjutnya

"ternyta tak ada gunung yang lebih tinggi dari lutut kita selama ketika kita masi mampu mendakinya.. "
(andradpratama)






Perkenalan Pertama

Tak adil rasanya jika perjalanan ini tak dituliskan dalam ruang penuh senyum ini.
ini perjalanan pertama saya iya PERTAMA :D
ini perjalanan yang mengenalkan saya lebih jauh lagi akan kebesaranMu
ini perjalanan yang mengeratkan ikatan cinta kami semua yang bersatu dengan alam indahMu

perjalanan itu berawal dari sini:
yup inilah ia para RANGER yang siap menapaki gunung Gede Pangrango.
-Tio, Aand, Muthi, Lenn, Amm, me (jay), hest, Una, Angel, lathifah, Azka, Nes, Tamoyo, Ebb Jun-
and Pres YC : Mr. Kusnan
bersama teman seperjuangan inilah saya terus belajar terus tumbuh hingga kelak dapat menginspirasi.

kali ini kami memutuskan untuk ber Expedisi menuju dataran tinggi => Gunung Gede Pangrango
kebayangkan gimana perjalanannya
mulai dari semangat yang membara menuju puncak, hingga satu persatu hampir menyerah karena kondisi fisik yang kurang fit. ditambah perlahan lahan turunnya hujan badai, kabut tebal terus menerjang. dsb..
ah tapi itu belum seberapa kawan!
tetaplah bersabar untuk meraih puncak kesuksesan bersama!

itu yang sebenarkan akan kita lakukan untuk Youthcare bukan?
so nikmati saja proses tersebut. hingga suatu saat kita tak tersadarkan bahwa kesuksesan itu sudah ada ditangan kita bersama.
(senyum bahagia) :)




ganti aja yuk..

zaa
heii zaa, kabar apa? eh apa kabar mksudnya?

Tantangan sama Masalah itu sama gak?

entah kenapa Masalah itu lebih kebeban ya, beban yang bikin seseorang menjadi susah.
gak suka banget kalau ada kata masalah disebutkan dalam sebuah kalimat. awalnya kalimat tersebut positif tapi jadi negatif karna diiringi dengan kata "masalah".

beda dengan Tantangan,  tantangan itu keren setiap orang yang selesei melalui tantangannya dia terkesan Tangguh sekali.
wanita tangguh?
semoga julukan itu bukan sekedar basa basi untuk saya. tapi Doa.

semangat wanita tangguh..
masalah yang datang silih berganti kini telah berubah nama menjadi Tantangan
iya TANTANGAN yang akan menjadikan seseorang menajdi lebih keren .

#Selamat Malam

Rabu, 20 Agustus 2014

Kisah OSD

Menikah Dini atau menikah Nanti? Sama-sama Hebat!


Lagi. Untuk ke sekian kali, aku mendatangai resepsi pernikahan teman sebayaku. Seperti mimpi saat kulihat Imam dan istrinya yang cantik bersanding di pelaminan yang sederhana. Senyum merekah dari keduanya menyebarkan rasa bahagia pada seluruh tamu yang hadir. Tak ada yang menyangka bahwa diantara kami, angkatan 2007 SMA 1 Depok, ternyata Imam lah sang juaranya. Sambil bergenggaman jemari, sesekali Imam berbisik dekat pada gadis yang telah menjadi istrinya. Seorang gadis pilihannya, yang ia suka, yang ia sayangi.

“Ruh-ruh itu laksana pasukan tentara yang dimobilisir. Yang saling mengenal dapat berkasih sayang. Sedang yang tidak saling suka akan senantiasa berlawanan” (HR. Al bukhari, Muslim, Ahmad, riwayat dari Abu Hurairah)

Pernikahan Imam menjadi renungan untukku. Keputusannya untuk menikah muda saat berusia 20 tahun dan istrinya yang berusia 18 tahun membuatku sangat terkesima. Imam adalah teman sekelasku saat aku dan dia bersama-sama duduk di kelas XI IA 4. Hampir 5 tahun aku mengenalnya ternyata tak ada perubahan yang berarti dalam dirinya. Ia tetap seorang Imam yang kukenal saat SMA dulu. Imam yang penuh dengan senyum dan bahasa Depoknya yang selalu saja membuatku tertawa. Dari dulu.. hingga kini.

Bagi sebagian orang, termasuk Imam, yang telah siap mengemban ‘mitsaqon- ghalizha’ sebuah perjanjian yang tercantum dalam Al-Qur’an sebagai perjanjian yang sangat berat, tentulah menyadari status dan tugas barunya. Ia bukan saja mahasiswa Ilmu komputer UI yang bertanggungjawab menyelesaikan kuliahnya tapi juga seorang suami dan calon ayah yang bertanggungjawab bagi keluarganya.

Keputusan Imam untuk menikah dini adalah hebat. Keputusan teman-temanku yang lain untuk menikah nanti pun hebat.

Menikah dini atau menikah nanti sesungguhnya sama-sama hebat. Tergantung konteks. Menikah dini dengan alasan telah siap lahir bathin, menyambung tali kasih sayang, menjaga kesucian dan menjaga kehormatan diri, menghasilkan banyak anak-anak hebat di kondisi orangtua yang masih produktif dan sehat tentu alasan yang tepat. Menikah nanti dengan alasan merasa belum mampu untuk menambah tanggungjawab dan merasa masih mampu menahan gejolak hasratnya sehingga memilih untuk terus mengisi dan memperbaiki diri terlebih dahulu, itu pun adalah orang hebat.

Bukankah memperbaiki diri berarti memperbaiki jodoh?

Mereka adalah orang-orang yang menyadari tak mudah membagi konsentrasi hingga memilih untuk fokus kuliah, fokus menaikkan kualitas diri dengan terus belajar. Tentunya belajar dalam artian luas. Belajar pada siapapun, kapanpun, dimanapun, pada apapun yang membuat dirinya menjadi pribadi yang cerdas dan matang, atau ada beberapa kasus bahwa ia kemudian menjadi tulang punggung keluarga hingga fokus untuk membantu perekonomian, menyekolahkan adik-adik, membahagiakan orang-orang yang telah begitu berjasa dalam hidupnya. Tidakkah itu golongan orang-orang hebat, ketika ‘kebahagiaan pribadi’ itu pun rela disingkirkan untuk sementara waktu karena kecintaannya pada keluarganya?

Banyak buku bertebaran kini dengan tujuan mengajak menikah muda. Biasanya buku-buku dengan genre seperti itu, laris di pasaran. Market-nya siapa lagi kalau bukan para anak muda. Begitu pula dengan majelis-majelis yang pasti selalu saja ramai didatangi kalau yang menjadi tema tak jauh-jauh tentang menikah muda. Ada asap pastilah ada api.
Buku-buku atau tema-tema itu menjadi sedemikian booming-nya tentu menjadi alasan tersendiri bagi mereka yang prihatin melihat keadaan anak muda masa kini. Daripada ‘aneh-aneh’, ayo menikah! Begitulah kira-kira yang bisa kusimpulkan.

Dampaknya bisa macam-macam. Dampak positifnya para anak muda akan termotivasi untuk menikah. Termotivasi mempersiapkan kondisi lahir bathin-nya untuk bersanding
dengan pujaan hati yang telah lama menjadi idamannya. Yang malas belajar jadi semangat belajar. Yang santai-santai saja mencari penghasilan, jadi semangat dalam bekerjanya. Wow.. indah bukan? Kalau seperti ini aku pun setuju.

Tapi kulihat ada beberapa teman setelah membaca buku atau mendatangi majelis biasanya semangat menikah begitu menggelora di dada. Terpesona pada kenikmatan
yang di dapat dalam pernikahan. Lupa bahwa menikah dikatakan menyempurnakan setengah dien dikarenakan begitu berat perjalanan yang akan dilalui.Belum ada persiapan apa-apa langsung tancep gas saja ingin menikah. Seperti perang. Pisau belum diasah, masih tumpul, sudah main terjun aja ke lapangan. Atau baru punya pisau satu yang tajam, langsung tergesa-gesa ingin bertarung aja. Belum apa-apa musuh udah membuat kita KO dengan senapannya. Maka sebelum berperang, paling tidak sudah punya persiapan pisau, senapan kalau bisa bom sekalian agar bisa menang dalam pertarungan. Hehe..
Maksudku di sini, paling tidak memiliki persiapan yang cukup menuju ke mahligai pernikahan. Masih ingat tulisanku sebelumnya? Bukankah gagal mempersiapkan berarti mempersiapkan kegagalan?

Menikah hanya dengan alasan keinginan untuk melindungi dan dilindungi, keinginan untuk disayang dan menyayangi, diperhatikan dan memperhatikan, ditemani dan menemani agar tak kesepian atau sejenisnya tidaklah cukup. Menikah bukan perkara sesederhana itu. Menikah adalah perkara tanggungjawab. .. Pertanyaannya kemudian, siapkah kita menjalani tanggungjawab itu? Tanggungjawab untuk mencari nafkah bagi lelaki dan mengurus rumah tangga bagi perempuan. Menyiapkan sedini mungkin tabungan untuk segala perkara yang tak terduga ( biaya pendidikan, berobat dll). Walau memang pernikahan memperluas rizki, tapi tak berarti ‘nekat’ menikah tanpa memiliki tabungan sedikit pun, bukan? Tentunya kita selalu ingin memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang disayangi. Maka persiapkanlah itu. Tak perlu lantas menunggu menjadi seorang yang kaya raya dahulu baru menikah. Paling tidak memiliki semangat dalam upaya mencari nafkah (dalam artian memiliki sikap mandiri yang wajib diemban bagi mereka yang memilih untuk menikah).memiliki semangat dalam upaya untuk terus belajar dan menyerap ilmu (karena lelaki menjadi imam yang tentu saja harus butuh ilmu untuk membimbing keluarganya. Pun seorang wanita yang menjadi guru pertama bagi anak-anaknya kelak).

Menikah cepat itu baik tapi tidak berarti tergesa-gesa. Tergesa-gesa dikhawatirkan berujung pada kecewa. Salah satu contoh menikah tergesa-gesa, adalah ( pembelajaran bagi kita semua), tak terlalu mengenal sang calon, sudah terbuai dulu pada sosoknya yang begitu kharismatik, ternyata setelah menikah baru ketahuan telah memiliki istri lain.Ingatkan kasus artis kita yang sempat merajai pemberitaan media masa di negeri ini? Contoh lain, setelah menikah ternyata malah merepotkan orang lain. Tak menyangka bahwa begitu banyak persoalan dalam rumah tangga hingga orangtua, kerabat, teman-teman ikut dilibatkan. Waah.. ternyata belum bisa untuk mandiri…

Berhati-hati agar tidak tergesa-gesa menikah berbeda dengan menunda-nunda pernikahan. “Nanti setelah lulus kuliah baru menikah”, setelah lulus sarjana muncul perkataan lain, “setelah S2 dulu deh baru nikah”, “setelah kerja aja deh nikahnya” atau.. “setelah posisiku di kerjaan settle dulu deh”..setelah ini setelah itu dst.. Sampai akhirnya terus menunda.. entah sampai kapan.. bukan seperti itu. Jadi teringat joke salah seorang temanku perihal sikap wanita terhadap lelaki yang mendekati. Wanita berusia 18- 25 tahun, “nanti dulu deh”. 26- 30 tahun,” boleh deh” 31 tahun ke atas, “yang mana aja deh”. hehe…

Sekedar ice breaking:). Ya, apabila telah mengenal calon dan keluarganya dengan baik,
siap lahir batin ditambah sudah tak mampu lagi menahan hasrat, untuk apalagi menunda?

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda, “3 orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan..

Seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya” (HR. Thabrani)

Imam, yang kini telah menjadi imam bagi istrinya, semoga adalah orang yang termasuk diberi pertolongan oleh Allah.. amin..

Sesuai kesepakatan kami, saat kami masih bersekolah dulu, bahwa akan ada piala pernikahan bergilir. Karena Imam yang paling pertama diantara kami, maka Imamlah yang berhak mendapatkannya.

Sebuah piala perak, bertuliskan…

Piala ini milik lelaki sejati. Menjadi juara adalah keberanian menentukan sikap, bukan menunggu waktu hingga datang kedewasaan bersikap. Selamat pada kau yang sedang menggenggamnya…

Follow by Email