Kamis, 07 Juli 2011

tips bangun malam buat qta

1.      Jangan merasa bangun malam/dini hari itu sulit, perasaan “sulit” akan menjadi sugesti negatif yang makin memberatkan diri untuk bangun.
 2.      Jaga keikhlasan serta perbanyak istighfar dan zikir, boleh jadi dosa dan kelalaian dirilah yang mengakibatkan sulitnya kita untuk bangun kemudian beribadah.
 3.    Mengingat manfaat ibadah pada waktu ini, baik itu Tahajud ataupun shalat jama’ah Subuh, manfaat dunia maupun akhirat, tulis jika perlu dalam lembar atau tempat yang mudah dilihat dalam jumlah yang mencukupi untuk ditampilkan secara bergantian tiap harinya, agar semangat baru selalu terasa tiap kali membacanya.
 4..    Sebelum tidur, lakukan adab-adab yang dituntunkan syari’at, seperti berwudhu, berdo’a, posisi tidur, dan sebagainya. Penjagaan Allah diawali dari penjagaan kita terhadap adab dan tuntunan yang telah digariskanNya. Insyaa’Allaah akan terasa mudah sekali untuk bangun malam jika poin ini terpenuhi.
 5.    Kenali lama tidur ideal masing-masing kita. Apakah 5 jam, 6 jam, 7 jam; sehingga kita tahu kapan saat harus tidur dengan mempekirakan waktu bangun sekitar dua pertiga malam, sekitar jam 3 dini hari. Beberap teman menyatakan, “Asalkan tidur tidak lebih dari jam 11 malam, insyaa’Allaah paginya bisa bangun untuk shalat malam.” Lebih baik kerjakan tugas/lembur saat dini hari, daripada malam harinya.
 6.    Jangan melupakan tidur siang selagi ada kesempatan. Tidur siang mempekuat daya tahan kita untuk bangun malam harinya.
 7.    Letakkan bel/alarm pada tempat yang kurang terjangkau oleh tangan kita, tapi masih terdengar keras, sehingga membuat kita harus bangun berdiri dan mematikannya. Jika perlu, saling mengingatkan/membangunkan sesama teman, seperti misal Tahajud Call.
 8.   Bertahap dalam mendidik diri. Maksudnya, pada awal pengerjaan ibadah, ambil raka’at Tahajud yang ringan (2-4 raka’at) dengan jeda yang tidak terlalu jauh dengan shalat Subuh. Setelah itu ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan kemampuan kita.
 9. Lakukan “reward and punishment” guna mendisiplinkan diri. Hanya saja, jangan terlalu keras menghukum diri, karena bisa berakibat keengganan untuk melanjutkan rangkaian ibadah ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Follow by Email